PERAN DAN FUNGSI AGRIBISNIS DALAM PEREKONOMIAN NASIONAL

Pertanian adalah unit produksi   biologis primer berbasis lahan. Output utama pertanian adalah bahan pangan dan serat. Pada saat ini, pertanian dikembangkan sebagai pemasok sumber bioenergi dan juga sebagai sumber bahan pangan. Implikasi permasalahan yang dihadapi pertanian saat ini adalah persaingan kepentingan antara pangan, bahan baku industri, dan bahan baku bioenergi. Sedangkan kendala utama yang dihadapi pertanian adalah keterbatasan lahan yang semakin lama semakin menurun jumlahnya.
Pengukuran atas peranan suatu sektor dalam perekonomian dapat dilihat dari penyerapan tenaga kerja, kontribusi terhadap penciptaan PDB (produk domestik bruto), kontribusi terhadap ekspor serta kontribusi terhadap konsumsi masyarakat.
A.   Penyerapan Tenaga Kerja
Daya serap sektor pertanian terhadap tenaga kerja cukup besar dibandingkan sektor lainnya. Hal itu dikarenakan sektor pertanian tidak ada kriteria khusus dalam penyerapan tenaga kerjanya. Karakteristik penyerapan sektor pertanian:
·         tidak memerlukan kualifikasi keterampilan khusus dan level pendidikan formal tertentu
·         signifikan dalam jumlah
·         dipengaruhi oleh man-land ratio

Gambar 1. Pertumbuhan tenaga kerja pertanian 1991-2016
Pertumbuhan tenaga kerja sektor pertanian di seluruh periode terpilih adalah negatif.  Pada periode tahun 1998 sampai 2002 jumlah pekerja pertanian mengalami peningkatan yang signifikan. Namun,  pada tahun 2003 sampai 2016 jumlah pekerja pertanian mengalami penurunan. Pada periode terakhir (2009-2016), hasil sektor pertanian bertumbuh 30 persen, yang tercepat sejak tahun 1990 namun jumlah orang yang bekerja di sektor ini menurun sebanyak 9 persen.

Gambar 2. Angkatan kerja berdasarkan pendidikan
Kurang dari 10 persen atau 11,6 juta orang dalam angkatan kerja memiliki gelar universitas. Secara keseluruhan hampir 15 persen (18,5 juta) angkatan kerja tidak menyelesaikan sekolah dasar atau belum pernah bersekolah sama sekali. Di kalangan mereka yang memiliki gelar universitas (sarjana dan lebih) hanya seperempat dari daerah pedesaan. Pada tingkat pasca sarjana dan doktoral persentasenya bahkan lebih rendah lagi: hanya 10 persen dan 1 persen angkatan kerja memiliki gelar pasca sarjana dan doktoral dari daerah pedesaan. Di sisi lain, lebih dari 63 persen angkatan kerja dengan pendidikan dasar atau lebih rendah berasal dari daerah pedesaan. Data ini menunjukkan pemisahan kota-desa dalam hal latar belakang pendidikan.

Gambar 3. Jenis pekerjaan berdasarkan jenis kelamin
Konsentrasi pekerjaan sebagian besar adalah di sektor pertanian, penjualan dan pekerjaan kerah biru lain dalam sektor jasa. Dalam bidang bisnis dan penjualan, proporsi perempuan pada 2016 lebih tinggi (24,4 persen) dibandingkan laki-laki (13,9 persen).
B.   Perkembangan PDB Indonesia Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 1988-2005
Kontribusi sektoral  sangat berhubungan dengan pertumbuhan karena mempengaruhi tingkat kontribusi sektor pertanian termasuk 3 sektor dominan pada struktur pendapatan nasional namun dari tingkat pertumbuhannya, sektor pertanian hanya menempati ranking ke-tujuh dari sembilan sektor yang ada.
Pertumbuhan sektor pertanian yang makin melambat dapat terjadi karena pertama secara umum, permitaan akan makanan dan produk-produk pertanian lainnya kurang elastis terhadap pendapatan (elastisitas pendapatan terhadap permintaan/ƐI < 1) jika dibandingkan dengan elastisitas pendapatan terhadap permintaan produk-produk non pertanian (sesuai dengan hukum Engel).
C.   Kontribusi PDB
Kuznets, 1961 dalam Ghatak, 1984 menyatakan bahwa :
·         kontribusi produk dari sektor pertanian mempengaruhi ekspansi sektor non pertanian melalui penyediaan pangan dan bahan baku bagi industri pengolahan.
·         sektor pertanian mampu menghasilkan surplus atas neraca pembayaran karena sumbangannya terhadap ekspor maupun pengembangan produk subtitusi impor.
D.   Kontribusi Ekspor
Perkembangan ekspor Indonesia pada beberapa sektor. Sektor pertanian masih dikategorikan masih kalah dengan sektor-sektor lain. Sektor yang paling dominan dalam perkembangan ekspor di Indonesia adalah sektor industri non migas.

Tabel 1. Perkembangan ekspor 2012-2016
Industri (MIGAS)
Pertambangan (MIGAS)
Pertanian
Industri (NON MIGAS)
Pertambangan (NON MIGAS)
Lainnya
2012
4172515.8
32804745.6
3597679.8
118115188.9
31322920.7
7215.3
2013
4309677.7
28323353.6
3598497.8
115158610.5
31154290.3
7364.8
2014
3627826.9
26704036.9
3373241.8
119753706.4
22827379.1
6469.2
2015
1766386
16785543.5
3725342.7
108598960.8
19400115.5
5908.3
2016
916385.2
12189068.9
3436233.5
109797311.7
18145962.6
4863.9
Sumber : Kementerian Perindustrian

Gambar 4. Grafik perkembangan ekspor tahun 2012-2016


Sumber :
International Labour Organization. 2017. Laporan Ketenagakerjaan Indonesia 2017. Jakarta : Kantor Jakarta

www.kemenperin.go.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEMASARAN DAN DISTRIBUSI PRODUK PETERNAKAN

Kenaikan Harga Bahan Pokok pada Bulan Ramadhan